Risiko Hamil di Usia 35 Tahun ke Atas

di usia 35 tahun ke atas memiliki tantangan tersendiri. Meski banyak wanita berhasil memiliki kehamilan sehat di usia ini, risiko komplikasi bagi ibu dan bayi tetap meningkat. 

Mengutip dari artikel Cleveland Clinic, para ahli kesehatan menemukan bahwa penurunan kesuburan paling besar terjadi di usia pertengahan hingga akhir 30-an. Penurunan ini berarti kualitas dan jumlah sel telur di ovarium mulai berkurang. Tapi, bukan berarti kamu tidak bisa hamil setelah usia 35 tahun. Hamil di usia ini masih sangat mungkin terjadi. Hanya saja, setelah usia 35 tahun, kesuburan mulai menurun lebih cepat dan risiko mengalami komplikasi kehamilan juga meningkat lebih signifikan.

Kenali risikonya dan ketahui apa saja yang harus dihindari!

Risiko Hamil Usia 35 Tahun Ke Atas Bagi Bayi

Kehamilan pada usia 35 tahun ke atas seringkali dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan baik bagi ibu maupun bayi. Seiring bertambahnya usia, tubuh ibu hamil mungkin menghadapi tantangan yang lebih besar dalam menjaga kehamilan yang sehat, dan bayi yang dikandung berisiko mengalami gangguan kromosom atau komplikasi lainnya. Adapun beberapa risiko hamil usia 35 tahun ke atas bagi bayi yang dikutip berdasarkan artikel di Mayo Clinic adalah:

  1. Kelainan Kromosom

Risiko hamil di usia 35 tahun ke atas bagi bayi salah satunya adalah risiko adanya kelainan pada kromosom bayi, seperti Down syndrome (trisomi 21). Risiko terjadinya Down syndrome meningkat dengan usia ibu, karena kualitas telur wanita menurun seiring waktu. Pada usia 25 tahun, risiko kelahiran bayi dengan Down syndrome adalah 1 dari 1.200 kelahiran, namun pada usia 35 tahun, risiko tersebut meningkat menjadi 1 dari 100. Ini disebabkan oleh proses pembelahan sel telur yang kurang sempurna pada wanita yang lebih tua, yang menyebabkan adanya kemungkinan kromosom tambahan.  

Yuk baca lebih lanjut mengenai Apa Itu Down syndrome? Kenali Penyebab, Ciri-ciri, dan Pemeriksaan yang Harus Dijalani

Selain Down syndrome, usia ibu yang lebih tua juga dapat meningkatkan risiko kelainan kromosom lainnya, seperti trisomi 18 (Edward syndrome) dan trisomi 13 (Patau syndrome), yang juga dapat menyebabkan kelainan perkembangan serius pada bayi.

  1. Kelahiran Prematur dan Berat Badan Rendah

Mengutip artikel di March of Dimes, dikatakan bahwa ibu yang hamil di usia 35 tahun ke atas memiliki risiko tinggi melahirkan bayi prematur dan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Hal ini terjadi karena perubahan fisiologis pada tubuh ibu, masalah kesehatan yang sering muncul seiring bertambahnya usia, serta peningkatan kemungkinan komplikasi kehamilan, seperti preeklampsia atau diabetes gestasional.

  1. Keguguran dan Kelahiran Mati

Risiko hamil usia di atas 35 tahun bagi bayi yang paling parah adalah terjadinya keguguran dan kelahiran mati (stillbirth). Dalam jurnal dikatakan secara statistik, risiko keguguran pada usia 35 tahun berkisar sekitar 20%, dan angka ini meningkat seiring bertambahnya usia. Pada usia 40 tahun, risiko keguguran dapat mencapai sekitar 40%, dan pada usia 45 tahun bisa lebih tinggi lagi. Selain itu, risiko kelahiran mati juga lebih tinggi pada ibu hamil yang lebih tua. Penurunan kualitas telur, peningkatan gangguan kesehatan ibu, dan risiko komplikasi seperti preeklampsia dan diabetes gestasional dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya keguguran atau kelahiran mati.

Risiko Hamil Usia 35 Tahun Ke Atas Bagi Ibu

Kehamilan pada usia 35 tahun ke atas rentan mengalami berbagai masalah. Berbagai kondisi seperti tekanan darah tinggi, diabetes gestasional, hingga masalah plasenta dapat muncul, yang dapat mempengaruhi jalannya kehamilan dan proses persalinan. Adapun beberapa risiko hamil usia 35 tahun ke atas bagi ibu, adalah:

  1. Tekanan Darah Tinggi dan Preeklampsia

Risiko hamil usia 35 tahun ke atas bagi ibu salah satunya adalah wanita yang hamil di usia tersebut lebih rentan mengalami tekanan darah tinggi dan preeklampsia. Kondisi ini dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan bayi, serta meningkatkan risiko persalinan prematur. Preeklampsia yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan kerusakan pada organ tubuh ibu, seperti ginjal atau hati, dan dapat menghambat pertumbuhan janin. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin sangat penting untuk mendeteksi gejala preeklampsia lebih awal dan mencegah komplikasi serius.

  1. Diabetes Gestasional

Risiko diabetes gestasional meningkat pada usia 35 tahun ke atas. Menurut American Diabetes Association, diabetes gestasional dapat menyebabkan komplikasi seperti bayi berukuran besar (makrosomia), yang meningkatkan risiko persalinan caesar. Selain itu, diabetes gestasional yang tidak terkendali juga dapat meningkatkan risiko bayi mengalami masalah kesehatan, seperti kadar gula darah yang rendah setelah lahir.

  1. Persalinan Caesar

ACOG menyarankan untuk persalinan caesar bagi ibu hamil yang berusia 35 tahun ke atas. Karena berbagai komplikasi yang mungkin terjadi, wanita yang hamil di usia 35 tahun ke atas lebih mungkin menjalani persalinan caesar dibandingkan dengan persalinan normal. Faktor-faktor seperti posisi bayi yang tidak optimal, ukuran bayi yang lebih besar, atau masalah dengan plasenta dapat membuat persalinan normal lebih berisiko, sehingga dokter lebih memilih untuk melakukan caesar demi keselamatan ibu dan bayi.

  1. Komplikasi Plasenta

Risiko masalah plasenta, seperti plasenta previa (plasenta menutupi jalan lahir), meningkat pada usia ini. Kondisi ini bisa menyebabkan pendarahan hebat selama kehamilan atau persalinan, yang dapat membahayakan kesehatan ibu dan bayi. Selain itu, wanita hamil usia 35 tahun ke atas juga berisiko mengalami solusio plasenta (plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum waktunya), yang dapat mengancam keselamatan ibu dan bayi.

Cara Meminimalisir Risiko Hamil Usia 35 Tahun Ke Atas

Kehamilan pada usia 35 tahun ke atas memang dapat meningkatkan risiko komplikasi, namun ada berbagai langkah yang bisa diambil untuk meminimalkan risiko tersebut. Berikut adalah beberapa cara yang dapat kamu lakukan:

  1. Perawatan Prenatal Rutin

Melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin sangat penting untuk mendeteksi masalah kehamilan sejak dini. Dengan perawatan yang tepat, dokter bisa memantau perkembangan janin dan kesehatan ibu, sehingga setiap masalah bisa diatasi lebih cepat.

  1. Pola Hidup Sehat

Menjaga pola makan yang seimbang, berolahraga secara teratur, menghindari merokok dan alkohol, serta menjaga berat badan yang sehat adalah langkah penting untuk meminimalkan komplikasi. Gaya hidup sehat tidak hanya meningkatkan kesejahteraan ibu, tetapi juga mendukung perkembangan janin yang sehat.

  1. Tes NIPT (Non-Invasive Prenatal Testing) untuk Deteksi Kelainan Kromosom

Tes NIPT adalah pemeriksaan aman yang dapat mendeteksi kelainan kromosom pada janin, seperti Down syndrome, Edward syndrome, dan Patau syndrome. Tes ini sangat dianjurkan untuk ibu hamil usia 35 tahun ke atas karena risiko kelainan kromosom lebih tinggi pada usia tersebut. 

Baca lebih lanjut 5 Kategori Ibu Hamil yang Perlu Melakukan Tes NIPT, Kamu Salah Satunya?

Naleya Genomics memberikan solusi tes NIPT dengan NIFTY yang aman, nyaman, mudah, cepat, dan lengkap untuk wanita hamil mulai minggu ke-10 kehamilan. Dengan NIFTY, ibu hamil bisa mengetahui risiko janin mengalami kelainan kromosom sedini mungkin, sehingga dapat mempersiapkan kualitas hidup yang lebih baik untuk sang buah hati.

  1. Mengelola Stres

Stres dapat memengaruhi kesejahteraan fisik dan mental ibu hamil. Oleh karena itu, penting untuk mengelola stres dengan cara yang sehat, seperti melakukan meditasi, yoga, atau terapi konseling. Kesehatan mental yang baik berkontribusi pada kesehatan ibu dan perkembangan janin yang optimal.

  1. Konsultasi dengan Dokter atau Ahli Genetik

Sebelum memutuskan untuk hamil atau selama kehamilan, sebaiknya konsultasikan rencana kehamilanmu dengan dokter kandungan atau ahli genetik. Mereka dapat memberikan saran berdasarkan kondisi kesehatan pribadi dan risiko genetik yang mungkin ada, serta membantu memilih langkah yang paling aman bagi ibu dan janin.

  1. Hindari Makanan dan Minuman yang Berbahaya

Selama masa kehamilan, makan makanan dan minuman sehat menjadi satu hal yang penting dilakukan demi menjaga kesehatan kamu dan janin yang sedang kamu kandung. Namun, selama masa kehamilan sistem kekebalan tubuh kamu akan menjadi lebih lemah. Oleh karena itu, ada beberapa makanan yang perlu dihindari ibu hamil karena dapat membuat kamu terkena penyakit yang membahayakan untuk kamu dan bayi kamu. Selain itu juga, terdapat beberapa minuman yang perlu dihindari ibu hamil karena akan berdampak baik untuk ibu maupun janin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *