Keputihan Berlebih Bisa Jadi Gejala Awal Kanker Serviks

Keputihan berlebih atau yang biasa disebut sebagai leukorrhea adalah kondisi yang umumnya dialami oleh banyak wanita. Namun, ketika keputihan berlebihan disertai dengan bau tidak sedap, perubahan warna, atau tekstur yang aneh, ini bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang lebih serius, termasuk kanker serviks loh!

Gejala Awal Kanker Serviks

Kanker serviks adalah pertumbuhan sel abnormal yang dimulai di leher rahim, yaitu bagian bawah rahim yang terhubung ke vagina. Mengutip artikel Mayo Clinic, sebagian besar kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi Human papillomavirus (HPV). HPV adalah virus umum yang menyebar melalui hubungan seksual.

Gejala awal kanker serviks sering kali tidak tampak jelas. Namun, seiring berjalannya waktu, beberapa tanda dapat muncul dan mengindikasikan adanya kanker serviks. Lalu, apa saja gejala awal kanker serviks yang harus kamu waspadai? Simak penjelasannya di bawah ini!

  1. Keputihan Berlebih

Keputihan berlebih menjadi gejala awal kanker serviks yang harus kamu waspadai. Mengutip dari artikel Thomson Medical, keputihan yang tidak normal seperti berlebihan, berbau tidak sedap, berwarna kekuningan, kehijauan, atau kecoklatan, serta bercampur darah dapat menjadi tanda adanya infeksi, peradangan, atau bahkan lesi prakanker pada serviks yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

  1. Perdarahan di Luar Siklus Menstruasi

Perdarahan di luar siklus menstruasi merupakan salah satu gejala awal kanker serviks yang harus kamu perhatikan. perdarahan ini bisa terjadi setelah berhubungan intim, di antara siklus menstruasi, atau bahkan setelah menopause.

Perdarahan semacam ini sering kali disebabkan oleh peradangan, lesi prakanker, atau pertumbuhan sel abnormal pada serviks yang mempengaruhi pembuluh darah di sekitarnya. Serviks yang mengalami perubahan ini cenderung menjadi lebih rapuh dan mudah berdarah, terutama setelah aktivitas fisik seperti hubungan seksual.

  1. Nyeri Panggul

Nyeri panggul merupakan salah satu gejala awal kanker serviks yang sering diabaikan. Rasa sakit ini dapat muncul secara terus-menerus atau hanya sesekali, terutama saat berhubungan seksual atau saat buang air kecil. Nyeri panggul yang tidak terkait dengan siklus menstruasi juga patut diwaspadai, terutama jika frekuensinya meningkat atau semakin intens.

  1. Nyeri Saat Berhubungan Intim

Berdasarkan jurnal penelitian rasa sakit atau ketidaknyamanan saat berhubungan intim (dyspareunia) bisa menjadi salah satu gejala awal kanker serviks yang perlu diwaspadai. Kondisi ini sering kali disebabkan oleh perubahan pada jaringan serviks akibat pertumbuhan sel abnormal atau peradangan yang dipicu oleh kanker.

Deteksi Dini Kanker Serviks

Deteksi dini kanker serviks memegang peranan penting dalam mencegah dan mengobati penyakit ini sebelum berkembang lebih parah. Melalui skrining rutin, perubahan sel serviks yang bersifat pra kanker dapat ditemukan dan diatasi sebelum berubah menjadi kanker. Bahkan jika kanker sudah terbentuk, mendeteksinya pada tahap awal meningkatkan efektivitas pengobatan dan peluang kesembuhan. 

Berikut ini adalah beberapa metode yang umum digunakan untuk mendeteksi kanker serviks sejak dini!

  1. Tes HPV (Human Papillomavirus)

Tes HPV merupakan salah satu cara deteksi dini kanker serviks yang bisa kamu lakukan. Tes ini dilakukan dengan mengambil sampel sel dari leher rahim (serviks) untuk dianalisis di laboratorium. Deteksi dini melalui tes HPV sangat penting karena infeksi HPV sering kali tidak menunjukkan gejala, tetapi dapat berkembang menjadi lesi prakanker atau kanker serviks jika tidak segera ditangani.

Menurut American Cancer Society, tes HPV direkomendasikan untuk wanita berusia 25-65 tahun sebagai bagian dari skrining rutin, baik sendiri atau dikombinasikan dengan tes Pap smear (co-testing). Tes ini memiliki sensitivitas tinggi untuk mengidentifikasi risiko kanker serviks pada tahap awal.

  1. Pap Smear

Deteksi dini kanker serviks selanjutnya adalah dengan melakukan tes Pap atau Pap Smear. Ini adalah metode paling umum untuk mendeteksi perubahan sel di serviks yang bisa berpotensi menjadi kanker. Tes ini dilakukan dengan mengumpulkan sampel sel dari serviks dan memeriksanya di laboratorium. Pap smear direkomendasikan untuk wanita berusia 21-65 tahun, biasanya setiap 3 tahun sekali, atau setiap 5 tahun jika dikombinasikan dengan tes HPV (co-testing). 

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Pap smear memiliki tingkat akurasi yang tinggi dan merupakan bagian penting dari program skrining kanker serviks.

  1. Kolposkopi

Jika hasil Pap smear menunjukkan adanya perubahan pada sel serviks, dokter mungkin akan melakukan prosedur kolposkopi untuk memeriksa serviks lebih detail menggunakan mikroskop khusus yang disebut kolposkopi. Prosedur ini memungkinkan dokter melihat jaringan serviks dengan pembesaran, sehingga lebih mudah mengidentifikasi area yang mencurigakan atau abnormal. 

Selama kolposkopi, dokter juga dapat mengambil sampel jaringan kecil (biopsi) untuk dianalisis lebih lanjut di laboratorium. Prosedur ini penting untuk memastikan apakah perubahan sel bersifat jinak, prakanker, atau sudah berkembang menjadi kanker serviks. 

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), kolposkopi adalah langkah diagnostik yang aman dan efektif untuk mengevaluasi hasil Pap smear abnormal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *