
Pernah mendengar tentang kehamilan di luar kandungan atau kehamilan ektopik? Yuk, kenali gejala, penyebab dan bahaya yang perlu diwaspadai!
Apa itu Hamil di Luar Kandungan?
Mengutip dari artikel Mayo Clinic, kehamilan ektopik atau hamil di luar kandungan adalah kondisi saat sel telur yang sudah dibuahi menempel di tempat yang tidak semestinya. Normalnya, sel telur menempel di dinding rahim, tapi pada kehamilan ektopik, sel telur justru tumbuh di luar rahim, seperti tuba falopi, ovarium, atau bahkan rongga perut.
Sebagian besar kehamilan ektopik terjadi di tuba falopi, sehingga sering disebut kehamilan tuba. Karena tuba falopi tidak dirancang untuk menampung dan mendukung perkembangan embrio, kehamilan ektopik tidak dapat berlanjut hingga cukup bulan dan harus segera dihentikan.
Kehamilan ektopik adalah kondisi serius yang memerlukan penanganan medis segera karena dapat mengancam nyawa ibu jika tidak ditangani dengan cepat.
Penyebab Hamil di Luar Kandungan
Kehamilan di luar kandungan, atau kehamilan ektopik, terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi tidak bisa mencapai rahim dan justru berkembang di tempat lain, biasanya di tuba falopi. Banyak hal yang bisa menyebabkan kondisi ini. Berikut adalah beberapa penyebab utamanya:
- Kerusakan atau Penyempitan Tuba Falopi
Mengutip dari artikel Cleveland Clinic, penyebab hamil di luar kandungan yang pertama adalah adanya kerusakan atau penyempitan tuba falopi. Tuba falopi berperan dalam menghantarkan sel telur dari indung telur (ovarium) menuju rahim. Jika ada kerusakan atau penyempitan, perjalanan sel telur bisa terhambat dan berakhir di tuba falopi. Infeksi seperti Chlamydia atau Gonorrhea sering menjadi penyebab utama kerusakan ini.
- Riwayat Kehamilan Ektopik Sebelumnya
Jika kamu pernah mengalami kehamilan di luar kandungan sebelumnya, risiko untuk mengalami kondisi yang sama di kehamilan berikutnya jadi lebih tinggi. Hal ini karena kondisi saluran tuba yang sudah pernah mengalami kerusakan atau gangguan cenderung meningkatkan kemungkinan embrio kembali tertanam di tempat yang tidak semestinya, seperti di tuba falopi.
Studi menunjukkan bahwa riwayat kehamilan ektopik meningkatkan risiko berulang hingga 10-25% pada kehamilan berikutnya, tergantung pada penyebab awal dan kondisi tuba setelah penanganan retensi.
- Operasi pada Organ Reproduksi
Apakah kamu pernah menjalani operasi di area panggul, rahim, atau tuba falopi? Jaringan parut yang terbentuk setelah operasi bisa mengganggu perjalanan sel telur ke rahim. Adhesi atau jaringan parut pada tuba falopi akibat operasi seperti pengangkatan kista ovarium atau miomektomi dapat mempersempit saluran dan meningkatkan risiko kehamilan ektopik.
- Penggunaan Alat Kontrasepsi Tertentu
Penyebab kehamilan di luar kandungan selanjutnya adalah akibat penggunaan alat kontrasepsi seperti IUD. Alat kontrasepsi IUD memang menurunkan risiko kehamilan, tapi kalau kamu tetap hamil saat memakai IUD, risikonya lebih tinggi kehamilan itu terjadi di luar rahim.
- Ketidakseimbangan Hormon dan Faktor Genetik
Pernahkah kamu berpikir bahwa salah satu penyebab kehamilan di luar kandungan akibat adanya ketidakseimbangan hormon dan faktor genetik? Hormon yang tidak seimbang atau kelainan bawaan pada tuba falopi juga bisa memicu kehamilan ektopik. Tuba falopi yang tidak berkembang normal sejak lahir bisa membuat sel telur sulit mencapai rahim.
- Kebiasaan Merokok
Ternyata merokok bisa menjadi salah satu penyebab kehamilan di luar kandungan loh! Itu karena merokok bisa memperlambat gerakan silia di tuba falopi, yaitu rambut-rambut halus yang membantu sel telur bergerak. Akibatnya, sel telur bisa terjebak di tempat yang salah.
- Infeksi dan Peradangan
Infeksi menular seksual (IMS) seperti Chlamydia trachomatis bisa menyebabkan peradangan pada tuba falopi. Infeksi ini memicu produksi zat tertentu, seperti interleukin 1, yang dapat meningkatkan risiko implantasi embrio di luar rahim.
- Prosedur Medis Sebelumnya
Wanita yang pernah menjalani ligasi tuba atau operasi lain pada tuba falopi juga berisiko lebih tinggi mengalami kehamilan di luar kandungan.
Gejala Hamil di Luar Kandungan
Gejala hamil di luar kandungan bisa muncul antara minggu ke-4 hingga ke-12 kehamilan, namun beberapa wanita mungkin tidak merasakan gejala apapun pada awalnya. Mereka baru menyadari adanya masalah setelah pemeriksaan medis atau munculnya gejala yang lebih serius. Adapun gejala hamil di luar kandungan yang dirangkum berdasarkan artikel di National Health Service, yaitu:
- Pendarahan Pada Vagina
Gejala utama hamil di luar kandungan adalah terjadinya pendarahan pada vagina. Pendarahan yang terjadi pada kehamilan di luar kandungan cenderung berbeda dengan menstruasi biasa. Pendarahan ini bisa datang dan pergi, berwarna coklat gelap, dan bisa lebih cair. Beberapa wanita mungkin menganggapnya sebagai menstruasi dan tidak menyadari bahwa mereka sedang hamil di luar kandungan.
- Nyeri Perut
Nyeri perut khususnya di bagian bawah salah satu sisi perut, bisa muncul secara mendadak atau bertahap, kamu harus waspada. Ini bisa menjadi salah satu gejala kehamilan di luar kandungan. Rasa nyeri tersebut bisa terasa secara terus-menerus atau muncul secara berulang. Meskipun nyeri perut juga bisa disebabkan oleh gangguan pencernaan atau angin, kamu sebaiknya segera konsultasi dengan dokter jika mengalami nyeri perut dan berpikir kamu mungkin hamil.
- Nyeri Ujung Bahu
Nyeri ini terasa pada ujung bahu tempat lengan dimulai. Meskipun penyebab pastinya belum diketahui, nyeri bahu bisa menjadi tanda bahwa kehamilan di luar kandungan menyebabkan pendarahan internal. Jika mengalami gejala ini, sebaiknya segera mencari bantuan medis.
- Ketidaknyamanan Saat Buang Air
Selama kehamilan, beberapa wanita mungkin merasakan nyeri atau tekanan saat buang air kecil atau besar, bahkan diare. Meskipun hal ini bisa disebabkan oleh infeksi saluran kemih atau gangguan pencernaan, sebaiknya konsultasikan dengan dokter jika kamu merasa hamil dan mengalami gejala ini.
Bahaya Hamil di Luar Kandungan
Kehamilan ektopik adalah salah satu kondisi yang tidak boleh dianggap remeh, karena merupakan salah satu penyakit yang dapat mengancam nyawa penderitanya. Jika dibiarkan, kehamilan di luar kandungan ini dapat menyebabkan komplikasi yang cukup serius. Adapun beberapa bahaya hamil di luar kandungan antara lain:
- Pecahnya Tuba Falopi
Ketika tuba falopi pecah, dapat terjadi perdarahan internal yang hebat, yang bisa mengancam nyawa jika tidak segera diatasi.
- Infertilitas atau Kemandulan
Jika salah satu atau bahkan kedua tuba falopi rusak atau harus diangkat akibat kehamilan ektopik, kemampuan seorang wanita untuk hamil secara alami bisa berkurang. Hal ini dapat mempengaruhi peluang kehamilan di masa depan.
- Syok Hemoragik
Kehilangan darah dalam jumlah besar akibat pecahnya tuba falopi dapat menyebabkan syok hemoragik, yaitu kondisi darurat yang memerlukan penanganan medis segera. Tanpa penanganan yang cepat, syok hemoragik dapat berakibat fatal.
- Kematian
Hamil di luar kandungan dapat menyebabkan kematian. Hamil di luar kandungan yang tidak terdeteksi atau terlambat ditangani dapat berujung pada kematian akibat perdarahan internal yang tidak terkendali.